Saya, Tentara dan Bakso

 

bakso_mi_bihun

Photo: google.com

Suka bakso? Siapa yang tidak suka makanan yang satu ini. Selain bisa ditemukan di mana saja, bakso juga menjadi panganan yang asoy saat hujan, snack menyenangkan saat lapar atau bahkan juga bisa dinikmati tanpa harus ada alasan tertentu.

Membayangkan kuah panasnya, butiran baksonya yang kenyal dan juga aromanya yang top markotop sudah membuat saya “ngiler” saat menulis tulisan ini.

Ada yang bilang yang suka bakso hanya perempuan. Buat saya menempatkan “hanya” perempuan sebagai pecinta bakso sejati tidak adil. Jelas-jelas tidak ada hubungannya antara bakso dengan isu gender.

Memang sih saya saya sering sekali terjebak di warung bakso dengan pengunjung mayoritas perempuan dan segelintir kaum lelaki, termasuk si tukang baksonya sendiri.

Apakah lelaki tidak suka bakso? Salah. Banyak juga lelaki yang suka bakso. Terbukti saya juga sering terjebak menikmati bakso bersama kaum lelaki. Dan itu kebanyakan saat saya meliput isu militer, institusi paling maskulin untuk aktivis gender.

Yup, Jangan salah. tentara Indonesia ternyata pecinta bakso sejati loh.

Beberapa kali liputan di kementerian pertahanan misalnya, saya dan rekan wartawan lainnya disuguhi bakso panas yang kuahnya mengepul wangi.

Yang makan bukan saja wartawan tetapi para tentaranya juga. Malah beberapa dari mereka menikmati bakso dengan kuah merah menyala alias “full” saos cabe hehehe.

Kalau melakukan liputan di markas TNI di Cilangkap sana, makan bakso di kantin dekat pusat penerangan (puspen) TNI menjadi ritual selanjutnya setelah doorstop Panglima TNI. Saya bisa melihat banyak juga tentara laki-laki makan bakso.

Staf puspen TNI Pak Badar sudah melakukan promosi serius pada wartawan kalau bakso di Cilangkap memang bakso yang paling enak. Kenyataannya rasa baksonya memang lumayan. Yang bikin enak mungkin karena tidak semua orang bisa masuk ke Mabes Cilangkap kalau tidak ada keperluan hehehe

Celakanya lagi karena otak kami semua sudah dicuci dengan program “bakso enak Cilangkap”, kami jadi ke kantin itu hanya untuk makan bakso saja. Padahal, banyak menu lain yang tidak kalah menariknya. Pernah saat kami menunggu bakso dihidangkan, Pak Badar malah muncul dengan sepiring nasi dan semur jengkol yang mengiurkan. Beberapa diantara kami langsung menyesal memesan bakso.

Bakso juga sering saya nikmati saat saya liputan bersama tentara ke luar daerah.

Saya ingat sewaktu ikut menteri pertahan sidak ke Lanud Pontianak, salah satu snack yang dihidangkan adalah bakso dan justru meja tempat bakso itu yang paling ramai. Semua orang bisa mengambil bakso sepuasnya alias tanpa jatah-jatahan.

Saat menteri pertahanan sedang melakukan kunjungan ke pulau terluar kawasan Natuna, kami wartawan yang sedang menunggu di Lanud Ranai juga dihidangkan bakso. Bayangkan, makan bakso di Natuna! Jauh-jauh dari Jakarta, makannya bakso juga.

Lebih serunya lagi bakso di Natuna ini enak sekali! Dagingnya banyak dan aksesorisnya lengkap dengan tetelan mengambang dan tahu. Langsung saja panci bakso itu jadi rebutan wartawan dan prajurit TNI AU yang sedang stand-by di Ranai.

Menurut cerita seorang tentara yang kebetulan menjadi teman makan bakso saya, banyak tentara yang suka bakso.

“Mbak masih ingat ketika musibah pesawat Air Asia yang jatuh ke laut? Tentara AL, terutama pasukan khusus dan penyelamnya banyak yang terlibat dalam operasi penyelamatan. Mereka bekerja keras,” cerita mas tentara itu ramah.

Saya mangut-mangut. Saya masih ingat musibah yang terjadi Desember 2014 lalu.

“Saat itu Panglima TNI (waktu itu Jenderal Moeldoko) datang menjenguk dan memberi semangat rekan-rekan kami yang sudah lama sekali menyelam mencari korban,” dia menambahkan.

Saya masih mangut-mangut.

“Seorang rekan yang kebetulan sudah terlalu lama di KRI minta bakso. Hari itu juga Pak Panglima menerbangkan ratusan porsi bakso untuk perajurit yang melakukan operasi penyelamatan,”

Saya berhenti mangut-mangut. Panglima TNI menerbangkan bakso untuk prajuritnya? Bakso? Seriously?

Nah, terbukti kan kalau tidak ada urusan gender dalam makanan yang satu itu. Yang pasti, harus diakui bakso memang makanan sejuta umat dan non-diskriminasi.

Advertisements

Jurnalisme Baper

Sejak dulu sampai sekarang, saya tidak pernah mau membanding-bandingkan jurnalisme di masa saya dulu (tua skalee) dengan masa sekarang. Tentu saja semuanya berbeda. Dulu wartawan tidak pernah punya sosial media dan bisa selfie saat liputan. Kami juga tidak bisa curhat di sosial media saat dimarahi editor, dimarahi narasumber, kesal dengan satu isu dan lain-lain.

Kami ini masuk jurnalis generasi era mesin ketik, generasi yang menunggu foto dicuci dan dicetak dan tentu saja tidak pernah terhubung dengan facebook.

Karena tidak mau membanding-bandingkan kondisi dulu dan sekarang itu, maka saya cenderung masa bodo terhadap kondisi perjunalistikan di Indonesia saat ini. Saya tidak mau dianggap sulit move-on dari masa lalu. Sehingga membuka ruang untuk jurnalis muda bicara “yailah, lain dulu lain sekarang. Jadul amat sihh..”

Sehingga saya cenderung untuk beradaptasi, termasuk mencoba semua media sosial dan ikut perkembangan jaman hehehe.

Padahal, jujur saya merasa wartawan sekarang terkesan lembek dan tidak setangguh jurnalis dulu. Belum lagi ada aliran “jurnalisme baper” alias jurnalisme bawa perasaan yang semakin mengakar di khasanah jurnalistik kita akibat derasnya pengaruh media sosial.

Jurnalisme baper? Yah itu istilah saya. Jurnalisme baper adalah jurnalisme yang melibatkan perasaan dan emosi si wartawan dalam meliput berita. Jadi jangan heran beritanya akan sangat tergantung bagaimana kondisi mental dan emosional si pewarta, bukan objektivitas yang mereka temukan di lapangan.

Jurnalisme baper ini jurnalisme penuh drama. Lebih parahnya lagi jurnalisme baper ini mengakomodir hal-hal sepele yang sebenarnya tidak penting, memanjakan wartawan, membuat wartawan tidak professional, dan tentu saja terkesan lembek dan anti kritik.

Tentu saja itu istilah saya yah, kalau pembaca punya istilah atau definisi lain silakan saja.

Apakah jurnalis tidak boleh baper? Siapa bilang tidak boleh. Jurnalis itu bukan setengah dewa. Mereka manusia biasa yang punya empati, perasaan dan juga ingin tahu yang tinggi. Tetapi tahap bapernya harus dikira-kira dong, jangan sampai terlalu baper dan terlalu lembek, sehingga gara-gara disinggung atau diomelin narasumber misalnya, jadi ngambek tidak karu-karuan.

Selama hampir 17 tahun saya jadi wartawan, bohong kalau saya tidak pernah merasa baper. Banyak sekali kejadian yang membuat saya ngamuk-ngamuk, marah, dan tersinggung. Tetapi semua saya telan sendiri. Tidak ada sosial media yang akan mendukung ke-baperan saya. Bahkan banyak rekan sejawat masa itu yang tidak tahu apa yang saya rasakan hehehehe..

Satu kejadian saya meliput di kawasan Laweung Pidie tahun 2001, setahun setelah saya jadi wartawan. Isunya tentang penembakan seorang guru ngaji bernama Teungku Abdullah Syafiie yang yang namanya sama dengan Pangima GAM Teungku Abdullah Syafiie saat itu. Akibat penembakan itu semua warga mengungsi karena takut.

Berangkatlah saya dengan penuh semangat dan gagah berani ke Laweng ditemani Nurnihayati alias Nonik (Nonik sekarang jadi wartawan serambi Indonesia di Sigli) dan juga Said Rizal. Nama terakhir ini adalah guide saya merangkap supir. Kami bergerak ke Laweung dengan mobil sewaan yaitu labi-labi. J

Seusai wawancara istri Teungku Abdullah Syafiie, wawancara saksi, melihat pengungsian dan meninjau TKP yang masih spooky plus masih berbau anyir darah, Said Rizal meminta saat bertemu dengan seseorang.

Saya dan Nonik digiring masuk ke sebuah kedai kopi tertutup oleh sejumlah laki-laki berwajah seram dan pintu ditutup dari luar. Saya waktu itu sudah punya firasat jelek. Said Rizal juga kelihatan cemas.

Dalam keremangan suasana kedai kopi di dalam (tidak ada lampu, cuma cahaya matahari yang masuk dari sela pintu kedai kopi), saya melihat seorang lelaki gempal pendek duduk dikelilingi laki-laki lain yang wajahnya juga tidak ramah.

Duek (duduk)..” kata si lelaki itu.

Saya dan Nonik duduk dan berpandang-pandangan.

Tanpa babibu, si lelaki gempal itu mengeluarkan pistol dan menaruh di meja depan saya dan Nonik.

Pat KTP (mana KTP),” katanya.

Kami berdua mengeluarkan KTP. Pria itu memeriksa KTP dan ketika melihat KTP saya dia menatap saya. Tatapannya curiga.

Nyoe, peu betoi lahee di Jakarta? (Ini apa benar lahir di Jakarta?)” bentaknya. Saya baru ngeh kalau yang mengurung kami di kedai kopi ini pasti anggota GAM karena mereka benci sekali pada orang dari Pulau Jawa.

Betoi Teungku (Benar Teungku),” jawab saya takjim.

Pakon jeut lahee di Jakarta (Kenapa lahir di Jakarta?)” tanyanya.

Pertanyaan Bodohhhhhhhhhh pikir saya dalam hati.

Meunyo jeut pileh, lon meuheut lahee di Amerika mantong (Kalau bisa pilih, saya mau lahir di Amerika saja),” balas saya kesal.

Si Lelaki hitam gempal itu mengembalikan KTP pada kami. Dia mengetuk-ngetukkan gagang pistol itu di meja, membuat suasana jadi gimanaaaa gitu. Saya melihat muka Nonik Pucat, sementara Said Rizal tidak bisa melakukan apa-apa, dan membuang muka saat saya menatapnya kesal.

Takut? Ya saya sangat sangat takut. Saya juga marah, kesal, sedih dan keki. Saya marah karena dicurigai dan saya sebal karena Said Rizal tidak bisa menjamin kalau saya “clean” dan bukan cuak atau sebangsanya. BRENGSEKKK.

Pria pendek yang akhirnya saya tahu kalau namanya Ibrahim itu mulai ngomel-ngomel dan menganggap semua orang yang berasal dari Jawa itu tentara alias Pa’i. Dan yang lahir di pulau Jawa pastinya kaki tangan Pa’i. Lama juga dia ngomel-ngomel.

Apakah saya baper saat dia membentak dan mengata-ngatai saya sebagai mata-mata tentara dan cuak?

Hehehe…Jelas saya tidak bisa baper karena bisa-bisa saya ditembak. Posisi saya kan tidak menguntungkan, jadi kalau mati tidak ada yang tahu. Termasuk mamak saya.

Jangan tanya deh gimana saya bisa nego dengan mereka sampai bisa lepas dari kedai kopi itu dan bisa tukeran nomer telpon plus foto. Yang pasti Said Rizal (kayaknya dia merasa berdosa) menganggap saya jurnalis gila.

Biar adil, saya juga pernah baper sama Tentara. Saat itu darurat militer tahun 2003 dan mereka melakukan blokir nomer telpon yang dicurigai sebagai GAM, termasuk nomer telepon saya. Alhasil saya tidak bisa menghubungi dan dihubungi. Ini jelas-jelas menganggu kerja jurnalisme saya yang katanya dilindungi UU Pers.

Saya mengadu ke provider nomer selular saya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Katanya nomer telpon saya 08116867XX diblokir oleh penguasa darurat militer. Eng ing eng…

Saya langsung ke penerangan PDMD, yang waktu itu dipegang oleh Kolonel Ditya Sudarsono. Saya minta penjelasan, kok bisa-bisanya nomer telpon saya masuk ke dalam daftar telepon yang dicurigai TNI. Bukannya sah-sah saja saya menelpon siapa saja? Saya kan wartawan yang harus check and re-check. Pak Ditya yang religious itu menasehati saya untuk menganti nomer baru, plus minta saya berhenti konfirmasi ke GAM.

Saya sangat marah. Tidak ada yang menolong saya. Tidak ada. Semua takut karena ini sedang darurat militer. Akhirnya saya memutuskan ganti nomer plus memulai menyusun kontak dari bawah lagi.

Baper? Ya, saya baper. Tetapi apa saya memboikot berita TNI gara-gara mereka memblokir telpon saya? Jelas tidak. Saya tetapi menghadiri konfrensi pers mereka dan paling sering ikut helikopter PDMD bila mereka akan ke luar kota.

Tapi dari semua kejadian-kejadian mengesalkan yang saya alami, ada beberapa waktu saya menangis terisak-isak karena terlalu baper. Saya tidak malu mengakuinya karena saya baper saat dimarahi nara sumber saya yang kebanyakan korban konflik dan korban tsunami.

Salah satu kejadian di tahun 2005, setelah tsunami. Saya dan beberapa wartawan mengunjungi sebuah tempat yang terimbas tsunami. Masyarakat yang selamat sudah kembali dan membuat tenda di atas puing rumah mereka. Beberapa dari mereka langsung menatap kami dengan tatapan sinis begitu rombongan kami mendekat.

“Mau apa kesini?” tanya satu dari mereka dengan bahasa Aceh.

“Kami mau wawancara pak,” jawab saya.

“Lebih baik kalian pergi dari sini. Kedatangan kalian tidak ada gunanya buat kami. Kondisi kami masih belum berubah. Yang ada kalian mendapatkan untung dari berita yang kalian buat,” kata lelaki itu serius.

Saya dan teman-teman kaget. Kami syok. Kedatangan kami tidak diinginkan oleh masyarakat yang marah. Dan mereka mengusir kami. Sampai di mobil saya tidak bisa menahan tangis saya. Saya menangis cukup lama. Saya merasa gagal karena masyarakat tidak mau percaya lagi.

Ya. Kalau yang memarahi dan membentak-bentak saya TNI, Pejabat, atau pemberontak mungkin saya tidak akan sedih, karena saya bekerja bukan untuk mereka. Tetapi masyarakat? Bukankah wartawan pelayan masyarakat yang dituntut memberikan informasi akurat, dan menjadi corong mereka?

Maaf, saya baper…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Soto Betawi Pak Kumis di Srengseng Sawah

penampakan warung
penampakan warung

Hari ini saya dan Emilio memutuskan makan siang diluar dan kami memilih SOTO BETAWI PAK KUMIS yang menjadi favorit kami. Lokasinya di Kalibata  Srengseng Sawah, depan mesjid.  Tempatnya kayak warung tenda begitu sih, tapi rasanya boleh diadu.

Sebenarnya rasa soto ini mengingatkan saya saat masih kecil. Biasanya ibu selalu mentraktir saya soto betawi kalau kami pulang dari jalan-jalan di pusat perbelanjaan Tanah Abang tahun 1980-an. Tempatnya yang saya ingat kecil dan yang makan berdesak-desakan.

Ketika saya dewasa dan bisa main ke Tanah Abang sendirian, saya gagal menemukan warung soto Pak Kumis Tanah Abang. Jadi warung soto di kawasan Srengseng Sawah ini cukup membawa kenangan saya pada masa kecil bersama Ibu.

Saya dan Emilio memang menyukai makanan betawi, terutama soto. Dan setelah keliling-keliling di sekitar jakarta selatan, hati kami terpikat pada soto di tempat ini. Selain rasanya, porsinya cukup besar dan harganya tidak mahal-mahal sekali. Biasanya saya dan Emilio menghabiskan Rp 55 ribu dengan memesan dua porsi soto, dua piring nasi, dua es teh tawar dan satu piring nasi tambah (hehehe..nambah dong…).

penampakan soto dan kuahnya.. hmmm
penampakan soto dan kuahnya.. hmmm

Biasanya saya dan Emilio memilih soto campur (campur jeroan dan lain-lain). Kuahnya begitu gurih karena ditambah minyak samin dan susu. Bahan soto seperti daging, kikil dan jeroan semuanya digoreng dulu, sebelum akhirnya disajikan dengan kuah.

Selain soto, di warung ini juga menyediakan sop kambing Betawi yang rasanya tak kalah luar biasanya. Ada juga sate tapi kami belum pernah coba sih secara kami terlanjur memesan soto favorit kami itu.

Buat yang kebetulan jalan-jalan di kawasan Srengseng Sawah. Jangan lupa mampir ya. Posisinya ngga terlalu jauh STM Teladan dan pintu masuk ke Setu Babakan.

BTW kami makan dulu yaa…

Emilio sedang menikmati sotonya
Emilio sedang menikmati sotonya

36 JAM di JAKARTA (Part II)

Haloo… kita sambung lagi ya cerita soal Miki chan yang berkunjung selama 36 jam ke Jakarta dan saya yang jadi guide dadakannya…

Sampai mana ya tadi? Oh ya sampai Miki dan Pheny diomelin polantas hehehe… Tapi petualangan Miki belum habis loh…

 Dari Nasi Goreng sampai Jamu gendong

Makanan apa sih yang nggak ada di Jakarta? Nah, ini daftar makanan yang dimakan Miki selama berada di Jakarta:

  • Bubur Ayam.

Karena kami tiba di bandara Soeta dini hari, paginya saya, Miki dan Emilio sarapan bubur ayam gerobak hehehe… Tukang buburnya kebetulan langganan saya. Rasanya sih lumayan, ada sate jeroan en harganya pun murah. Miki langsung semangat potret sana sini.

  • Nasi Goreng Gerobak

Miki melihat langsung bagaimana Nasi Goreng Indonesia itu dibuat. Aroma bumbu nasi goreng itu tak pelak membuat Miki tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk makan. Belum lagi gaya sang abang nasgor yang membolak balik nasi di wajan. Miki langsung jepret sana sini dengan kamera Olympus canggihnya.. klik… klik…

  • Tahu goreng dan tahu isi

Secara tahu termasuk bahan makanan penting untuk orang Jepang, nah Miki bisa mencicipi tahu dengan resep yang berbeda. Dia terkesan dengan rasa tahu yang gurih, dan harganya yang super murah.

  • Gado-gado betawi dengan Es Kelapa Muda gula merah

Dia menyebut makanan ini dengan istilah Indonesian salad with peanut sauce. Saya promosi “Ini favorite teman kita Puri, anak APS indonesia, yang vegetarian,”.

  • Ayam penyet

Haha… ini makanan yang bikin dia kepedesan dan dia kembali terkesan dengan Indonesia yang tidak bisa hidup tanpa cabe. Begitu saya bilang kalau cabe bisa bikin inflasi, dia geleng-geleng kepala.

miki, padang

Credit Photo: Miki Yoshida

  • Nasi Padang

Ini mah makanan yang paling penting dinikmati si Miki dan saya menikmati bagaimana dia makan nasi padang berlaukkan gulai ayam dan sambel ijo hehehe.. makannya pake tangan pula…

  • Jamu gendong

Nah, kali ini saya memaksa Miki mencoba Jamu kunyit asem… kayaknya dia kebingungan mendefiniskan rasanya hehehe…

  • Es Cincau

“What is this? It looks dangerous,” itu komen Miki pas saya memesankan dia es cincau. Hahahaha… belum tahu dia.

  • Bubur Kacang Ijo

Saya mengajak dia makan burjo di warung indomi. Sayangnya tidak ada kacang item.

Visiting Monas for Doraemon

 Kami tiba di Monas dengan mengunakan Bajay. Sayangnya Miki tidak bisa naik ke puncak monas karena waktu berkunjung sudah habis. Terpaksa kami keliling-keliling dan melihat pemandangan.

Waktu itu monas agak-agak gimanaaa gitu. Banyak sekali pengunjung yang terkesan menakutkan. Emilio yang bersama saya langsung pasang muka waspada.

Ketika kami mendekati kaki Monas, mendadak Miki histeris. “Look… Doraemon…” katanya.

Saya dan Emilio langsung menoleh. Tak jauh dari kami ada badut yang menggunakan kostum Doraemon. Badut itu bersedia difoto dengan anak-anak asal diberi imbalan.

“Look, it’s Spongebob and teletubbies,” kata Miki.

Weleh.. saya Cuma tersenyum kecut berharap Miki tidak nekad minta berfoto dengan Doraemon.

Mulai dari Kereta Commuter sampai dengan Bajay

Selama 36 jam berada di Jakarta, Miki berhasil mencoba hampir semua moda transportasi di Jakarta. Tidak percaya? Berikut listnya:

  • Naik motor diboncengi Pheny. (Jagakarsa- Taman Mini PP)
  • Naik kereta komuter jabodetabek (St Lenteng Agung- St Karet)
  • Naik angkot (Jagakarsa-Lenteng Agung)
  • Bajay Orange ( Tamrin City- Monas)
  • Bajay Biru (Jalan Sabang- St Gambir)
  • Taksi (Airport-Jagakarsa)
  • Bus Damri (Gambir- Airport)

Belanja

Saya menemani Miki belanja Batik di Thamrin City. Dia beli batik dan kembali komen kalau harganya sangat murah (duileee). Setelah itu wisata belanja kami berakhir di hypermart untuk belanja oleh-oleh untuk dibawa ke Manila.

Miki memborong bumbu Nasi Goreng, kopi dan aneka cemilan.

Emilio dengan iseng menyuruh Miki membeli bumbu racik sayur asem. Tanpa ragu dia memborong beberapa bungkus. Hahaha.. dasar Emilio..

Semua barang dimasukkan ke dalam tas. Dan Emilio sempat salut karena semuanya bisa masuk ke dalam tas Miki.

“Tasnya seperti Doraemon ya.. muat semua” kata Emilio.

–00–

Setelah berbelanja dan main-main di Jakarta selama 36 jam, tiba saatnya kami harus berangkat kembali ke airport untuk terbang ke Manila.

Miki kelihatan puas.

Emilio kelihatannya capai

Sementara saya puas karena bisa menyenangkan Miki berwisata di Jakarta meskipun Cuma 36 jam saja…

THE END

36 JAM DI JAKARTA (Part I)

(Pengalaman menjadi guide sahabat Jepang saya mengunjungi Jakarta selama 36 jam)

Entah karena berbakat untuk berpromosi atau memang sedang kangen kampung halaman, saya selalu membanggakan Jakarta di depan teman-teman saya, penerima Asia Peacebuilder scholarship (APS) Batch 7 tahun 2013-2014.

Setiap menikmati makanan atau nongkrong bersama mereka, saya selalu membanding-bandingkan Philippines dan Costa Rica dengan Indonesia.

“Di Indonesia makanannya lebih enak”,  atau “ Ini mah di Jakarta juga ada,” atau “Kereta commuter di Jakarta lebih sering penuhnya daripada kosong,”  atau “Rendangnya kurang pedas, enakan di Jakarta,”

Makin sering saya menyebut kata “Jakarta”, semakin home sick saya.  Ya Tuhan, saya kangen sate ayam, bakso, gado-gado, pecel lele. Saya kangen naik KRL commuter, berebutan naik busway, atau naik ojek dan bajay. Damn…

Siapa sangka yang akhirnya penasaran dengan Jakarta adalah sobat Jepang saya, Miki Yoshida. Maklum kami selalu bersama dan dia jadi guru origami saya yang sangat sabar. Dan ketika saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta selama 36 jam dalam rangka menjemput suami saya Emilio,  Miki berminat ikut. Nahloh.

Semula saya pikir dia bercanda. Eh tidak tahunya dia serius. Pada suatu malam, di bulan September 2014, pukul 22.00 waktu Manila, Miki mengirimkan CC email dari Cebu Airlines, mengonfirmasi kalau DIA AKAN IKUT KE JAKARTA.

Mulailah saya panik. Masalahnya Jakarta itu kan macet luar biasa. Bisa-bisa Miki tidak bisa kemana-mana. Trus apa yang akan dilakukannya selama 36 jam di Jakarta? Sementara saya sendiri biasanya malas kemana-mana, kecuali ke tukang soto betawi Pak Kumis yang tak jauh dari rumah.

Miki sendiri (seperti biasa) sudah sibuk searching di google dan Lonely Planet. Dia langsung bilang terus terang kalau salah satu tujuan dia adalah Monas. Alasannya: Monas itu lambang Jakarta dan dia mendengar ada Doraemon di Monas. Permintaannya membuat saya melongo.  Monas? Doraemon? Ngapain Doraemon di Monas?

Akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi Pheny, sahabat saya wartawan Koran ekonomi Kontan.  Pheny jadi andalan saya untuk memboncengi Miki secara kawasan di Jakarta lebih gampang dijangkau dengan mengunakan motor.

Pheny memang luar biasa. Dia setuju  mau memboncengi Miki. Meskipun sempat kecewa karena berharap sobat Jepang saya seorang laki-laki yang tampangnya keren mirip aktor Korea hehehehe…

Siapa sangka 36 jam ternyata cukup lumayan untuk eksplor Jakarta. Tidak percaya? Di tulisan ini akan saya beberkan (duileee) kemana-mana saja Miki jalan-jalan dan pengalaman apa saja yang dia alami.. hehehe…

CHECK THIS OUT

miki1

KI-KA (Pheny, Miki, Nanee dan Emilio)

  1. Soekarno Hatta airport

Begitu sampai di Soeta Airport, Miki sempat komplen karena harus bayar biaya visa on arrival. Dia keberatan mengeluarkan uang (saya lupa jumlahnya) hanya untuk 36 jam saja di Jakarta.  Trus dia heran kok orang Jepang harus membayar VoA, sementara di Philippines dan Negara Asia lain serba gratis.  Saya langsung meledek dia. “You should pay more, I think. Especially regarding to the history between Japanese and Indonesia.” hehehehe… Dia langsung cengengesan…

Miki mengagumi arsitektur airport yang serba etnik dan bilang airportnya bagus. Belakangan dia gantian meledek saya, karena ketika kami akan kembali ke Manila, kami harus duduk di lantai menunggu pesawat, secara kursi untuk menunggu tidak cukup.

‘The airport operator should buy new chairs and never let me sit on the floor. I’ve paid VoA already,” katanya nyebelin.

Saya gantian cengengesan.

Bukan itu saja, ketika kami tiba di Manila, dia langsung cerita pada semua teman-teman APS untuk membawa kursi lipat kalo mau ke Jakarta. “The airport doesn’t have enough chair,” katanya.

Waduh… saya langsung malu sama promosinya yang sesat itu.

  1. Money Changer

Saya membawa Miki untuk menukar uang di money changer terdekat yaitu di Depok Square alias Detos. Dia menukar 200 dolar dan mendapatkan uang sebanyak Rp 2,400.000.

‘Wow, I became a millionaire in your country,” katanya sambil menghitung lembaran 100 ribuan rupiah. terkagum-kagum.

Saya tersenyum kecut. Mata uang Rupiah memang sedang rendah-rendahnya, dan celakanya orang-orang seperti Miki merasa kaya di Indonesia, sementara orang-orang Indonesia masih kesulitan mencari uang untuk membeli sekilo beras yang harganya Rp 10,000…

Bisa diduga, Miki hanya membelanjakan kurang dari 100 dolar di Indonesia selama 36 jam mengunjungi Indonesia.  Dia bahkan tidak berminat menghitung berapa rupiah lagi uang yang tersisa.

‘Too many zeros, so confusing,” katanya sambil mengambil semua uang rupiah dan memasukkannya ke dompet.

  1. Taman Mini Indonesia Indah

Ketika Miki memutuskan mengunjungi Indonesia, yang pertama terlintas di kepala saya adalah membawanya ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Untung Pheny bersedia mengantar karena dia belum pernah kesana. Sementara saya pernah mengunjungi TMII saat saya masih TK alias puluhan tahun yang lalu.

“Dengan mengunjungi Taman Mini, kamu berarti sudah keliling Indonesia. Biaya masuknya murah. Coba kamu bayangkan berapa kamu harus mengeluarkan uang kalau mau keliling Indonesia,” kata saya berpromosi.

Kami memakai jaket, penutup mulut dan helm saat akan naik motor ke Taman Mini. Miki sepertinya hepi naik motor mengarungi kemacetan Jakarta. Saya rasa dia mendapatkan pengalaman menarik, secara Pheny kalau menbawa motor suka ngebut hehehe…

Di Taman Mini, kami mengunjungi rumah adat seluruh sumatera dan jawa dan bali. Selanjutnya hanya melintas di rumah-rumah adat provinsi Kalimantan dan Sulawesi. Ternyata yang berlibur bukan hanya Miki. Saya, Pheny dan Emilio juga hepi karena kalau bukan karena Miki kami tidak akan pernah punya pikiran menginjakkan kaki ke Taman Mini hehehe…

Terkena Razia Polantas

Pulang dari Taman Mini, motor yang dikendarai Pheny dan Miki terkena razia polantas.  Pheny langsung mengeluarkan SIM dan STNK-nya sementara Miki malah sibuk mengambil gambar. Segera saja, polisi yang merazia langsung marah-marah ke Miki yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

Untungnya Miki bersama Pheny yang sejak dulu bertemperamental dan beraninya minta ampun. Entah gimana ceritanya keduanya lepas dari razia.  Miki dengan antusias bercerita kalau mereka diomelin polisi gara-gara dia memotret.

“Padahal saya Cuma memotret rumah di sekitar situ loh, bukan polisinya,” kata Miki sambil cengengesan.

(BERSAMBUNG)

Hati-hati Masa Paket Data di HP Anda

Ini pengalaman pribadi saya dan jujur saja cukup menyebalkan. Bayangkan sedang asyik-asyiknya surfing internet, eh paket data habis kemudian menyerap pulsa untuk internet. Lagi-lagi selalu tanpa adanya peringatan dari provider ponsel saya.

Ternyata eh ternyata saya sudah melampau batas pemakaian kuota dalam periode tertentu yang diizinkan operator atau dalam bahasa kerennya adalah Fair Usage Policy (FUP).  FUP ini bisa berlaku per hari, per minggu atau per bulan tergantung pilihan para konsumennya.

Mau tidak mau saya harus mengakui kalau saya termasuk “kuper” alias kurang pengetahuan tentang pembelian data internet untuk ponsel. Saya memang termasuk pelanggan yang “lugu” dan selalu berpikiran positif pada provider ponsel saya (Apa coba..)

Sekilas tentang fair usage policy?

Seperti yang sudah diketahui, paket internet yang ditawarkan operator macam ragamnya dan berbeda-beda. Ada yang menawarkan berbasis kuota atau yang berbasis kecepatan.

Bila FUP ini sudah tercapai maka ada dua kemungkinan yang terjadi pada konsumen paket data seperti saya yaitu

  1. Koneksi internet diputus dan kemudian provider seluler akan memotong pulsa untuk melanjutkan sambungan internet, atau
  2. memperlambat kecepatan sedramatis mungkin sehingga sangat sulit bagi konsumen untuk surfing di dunia maya.

Yang jadi masalah operator seluler sering tidak jelas memberikan informasi tentang FUP ini kepada konsumennya. Mereka justru berpromosi kalau kuota paket data mereka adalah unlimited. Tak heran banyak konsumen yang terkecoh karena tiba-tiba saja pulsa di smartphone tandas. Daaannn.. saya yang termasuk konsumen jenis itu hihihihi

Pengecekan FUP di setiap operator selular jelas berbeda. (Yaiyalah, mereka kan kompetitor…)

Akhirnya setelah cari sana sini, lirik sana sini, seaching sana sini… Tadaaaa….  berikut cara mengecek FUP melalui SMS atau dial untuk lima provider seluler terkemuka di Indonesia:

  1. XL:   ketik: KUOTA  dan  Kirim ke: 868
  2. Indosat : ketik: USAGE kirim ke 363
  3. Simpati : dial *363#
  4. Smartfriend : ketik: CEK dan  kirim ke 995
  5. 3        : ketik info (spasi) data kirim ke 234

 Semoga kejadian konyol pada saya tidak terulang pada rekan-rekan yang membaca ini yaaa… 🙂

Sambal Teri Kacang

Image

Photo: penampakan kalau sudah matang

Ini menu favorite saya karena rasanya maknyuss. Sambal ini cukup memuaskan meskipun dimakan dengan nasi panas saja. Biasanya dimasak dalam jumlah banyak dan disimpan di dalam toples. Saya biasa memakai teri medan yang kecil dan asin itu dibanding teri besar.

Sambal teri kacang sering jadi alternative kalau berpergian atau untuk anak kos-kosan karena awet dan tahan lama. Bisa juga jadi menu saat sahur dengan sayur bening, terutama kalau terlambat masak sahur 😀

Cara membuatnya mudah kok.

BAHAN UTAMA

  • Kacang tanah seperempat kilo digoreng sampai coklat keemasan dan wangi, tiriskan
  • Teri medan, cuci bersih dan jemur di bawah panas matahari sampai setengah kering. Goreng hingga kekuningan. (Mamak bilang penjemuran itu penting supaya teri mekar saat digoreng)

BAHAN SAMBAL

  • Cabe merah 15 buah (boleh tambah cabai rawit merah kalau mau pedas)
  • Bawang putih 4 siung
  • Terasi setengah sendok teh
  • Gula Jawa satu sendok the
  • Asam Jawa setengah sendok teh
  • Garam
  • Mecin (bila suka)
  • Daun jeruk
  • Kecap manis, satu sendok makan
  • Minyak untuk menumis secukupnya (sekitar 3 sendok makan).
  • Air secukupnya.

CARA EKSEKUSI

  • Haluskan (yang malas bisa pakai blender) cabe, bawang putih, gula jawa, terasi hingga halus
  • Panaskan minyak untuk menumis
  • Tumis bumbu yang dihaluskan bersama daun jeruk
  • Masukkan kecap manis, asam jawa
  • Masukkan air sedikit untuk mematangkan cabai
  • Tambahkan garam dan mecin (kalau suka)
  • Bila sudah wangi dan matang (sambal mengental dan mulai keluar minyak), matikan api kompor.
  • Tunggu hingga sambal dingin, baru campurkan dengan teri dan kacang. Aduk rata
  • Siap dihidangkan atau dimasukkan ke toples

NB:

Teri dan kacang akan kriyuk2 karena sambal dalam kondisi dingin saat dicampur.