The story of rusty students

Hari ini genap lima minggu saya menuntut ilmu di Universitas Ateneo Manila Philipina. Kuliah di Ateneo ini merupakan babak pertama sebelum bulan Agustus (Insya Allah) 2013 saya belajar lebih dalam soal Media, Peace and Conflict Studies di University for Peace (UPEACE) Costa Rica.

Di Ateneo yang terkenal dengan maskot “Blue Eagle” itu saya akan belajar selama sepuluh minggu…

Sebagai mahasiswa yang cukup “karatan” kondisi ini sangatlah menantang. Maklum, sudah hampir 13 tahun saya lulus kuliah. Saya bahkan sudah lupa bagaimana duduk di kelas mendengarkan dosen atau membaca buku/tulisan akademik yang isinya lebih banyak teori dan terkadang bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.

Eniwey, mahasiswa karatan model saya –terutama yang sering sinis dengan kajian ilmiah karena lebih cenderung fokus dengan kenyataan—memang harus berusaha lebih keras dibanding mahasiswa lain, terutama dalam  hal mengurangi kekeraskepalaan kami hehehe…:D

Selama empat minggu pertama, kuliah yang saya alami lebih pada pendalaman bahasa Inggris dalam hal speaking dan writing di pagi hari. Untuk sorenya kami mendapat content class soal demokrasi dan kenegaraan.

Sementara untuk enam minggu berikutnya, selain English class, saya akan mendapat dua mata kuliah penting; international relations dan comparative politics. Saat itulah kuliah akan dimulai dari pukul 9 pagi sampai 9 malam.

English class untuk speaking  mengajarkan cara bicara dan memberikan presentasi yang baik dan benar. Kami diberikan resep memberikan presentasi dan adu argumen di depan audience dengan materi yang cukup terstuktur, jadi nggak sekedar ngalor ngidul.

Sementara untuk kelas writing, kami diharuskan menulis research paper lengkap dengan bibliografi dan abstraksi yang berhubungan dan conflict studies. Untuk itu mau tidak mau kami harus membaca minimal 15 sumber bacaan, boleh buku, reseach paper orang lain atau makalah yang sesuai dengan research pilihan kami.

Bisa dibayangkan setengah mati kami pontang panting untuk tugas yang satu ini. Membaca 15 sumber bacaan ilmiah dalam satu minggu bukanlah segampang membaca novel… Dari semula pihak kampus sudah sangat tegas dengan yang namanya plagialism.. jadi jangan coba-coba nekad mencontek hasil karya orang…

Setelah disiksa paginya dengan English class, kami kemudian menghadapi English Content class di sore hari. Di kelas ini  kami dipaksa untuk terbiasa aktif di kelas dan berdebat secara intelektual –bukan ngalor ngidul–, maklum nanti di UPEACE Costa Rica kami akan berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa dari puluhan negara lain yang kabarnya sangat “agresip”.

Lagi-lagi content class juga hobi memberi tugas atau assigment. Lagi-lagi membaca suatu hal yang paling penting. Sebelum kelas masuk, kami sudah diberikan bahan bacaan yang ajigile terkadang hingga 70 halaman. Semua harus dibaca kalau tidak kami pasti terbengong-bengong di kelas.

Tidak heran baru beberapa hari saja, ada teman yang masuk kelas dengan mata merah alias kurang tidur. Semua mengeluh karena kecapean. Bisa dimaklumi, kebanyakan scholars adalah profesionals yang sudah lumayan lama tidak pernah berurusan dengan research paper atau buku ilmiah. Konon pula saya yang sudah 13 tahun lulus kuliah.

Kondisi diperburuk dengan internet yang tidak bisa diandalkan di flat. Akibatnya pelajaran sering terganggu karena tidak bisa mengunakan akses internet.

Tidur kurang dari 5 jam menjadi keseharian kami. Kopi jadi sahabat sejati. Depresi selalu membayangi. Hiburan satu-satunya adalah nongkrong bareng saat istirahat dan “curhat” atau berkeluh kesah.

Yang paling seru saat sedang mengerjakan writing assignment hingga tengah malam, international students yang tinggal di kawasan Barangka sering janjian ngopi untuk merenggangkan diri dari kepenatan. Setelah kopi habis, kami kembali ke kamar masing-masing dan kembali belajar.

Atau bila tidak terlalu malam, kami ramai-ramai sering mendatangi seven-eleven yang dibuka 24 jam. Kami akan belanja snacks atau ice cream murah meriah sekedar memanjakan diri. Kami menyebut itu midnight snacks.

Assignment yang bejibun itu kerap membuat saya jarang mengunakan media sosial seperti facebook atau twitter. Jangankan media sosial, untuk skype dengan emilio saja kayaknya susah mendapatkan waktu yang tepat.  Waktu yang tersisa sepertinya lebih bagus digunakan untuk tidur dan istirahat.

Yang pasti, saya merasa lepas dari marabahaya setelah assignment selesai dan terkirim ke email para teachers –tanpa saya harus cari printer seperti students yang lain hehehe–. Saya biasanya balas dendam dengan tidur cepat dan bangun lebih lambat dan santai.

Seperti beberapa hari ini, saya lumayan santai jadi bisa menulis blog ini..😉

2 thoughts on “The story of rusty students

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s