Ulang tahun JP, Raymond Toruan dan turning point saya

 jakarta post

Hari ini tanggal 25 April 2013, koran saya tercinta The Jakarta Post (JP) ulang tahun yang ke 30. Usia yang cukup dewasa. JP sudah bertahan dan melewati banyak masalah yaitu sejak masa  orde baru, reformasi dan orde gonjang ganjing ( kenapa orde gonjang ganjing? Karena sejak sembilan tahun belakangan ini kasus korupsi makin parah dan orang-orang merasa kurang lengkap kalau tidak korupsi J)

Selama berkantor di Jalan Palmerah Barat 15 sejak 2008, saya tidak pernah namanya hadir di acara ultah kantor. Saya lebih sering menghabiskan waktu liputan diluar kantor dan bahkan langsung pulang setelah liputan. Saya cuma tahu ulang tahun JP justru dari teman-teman yang pulang kantor atau pun foto-foto yang mereka upload di facebook atau twitter. Ada kue besar, nasi kuning, wine dan sampanye…

Untuk pertama kali, di ultah JP yang ke 30 ini, saya memutuskan untuk ke kantor dan menikmati suasananya. Saya berharap bisa bertemu banyak rekan dan ngobrol –tentu saja sambil bikin berita—di hari paling penting untuk JP ini.  Ini saya lakukan karena seminggu lagi saya akan cuti besar dan mungkin tidak akan pernah ke kantor ini hingga 20 bulan ke depan😦

Sudah saya duga, kantor berlimpahan makanan dan bunga. Tart coklat, cupcakes, dan nasi kuning mengalir tidak putus-putusnya sampai kami kekenyangan, berharap ada rekan wartawan lain yang datang untuk bisa menyantap makanan yang melimpah.

Bukan itu saja, suasana makin meriah saat ada tiup lilin di ruang rapat sore disaksikan pemred kami yang charming Meidyatama Soeryodiningrat. Lilin itu dinyalakan di atas kue coklat ukuran satu meteran.

Kami menyanyikan lagu happy birthday dan diakhiri dengan potong kue. Sempat sebelumnya managing editor Rendi Witular keheranan begitu melihat jumlah kami yang hadir begitu sedikit.

“Cuma segini?” tanyanya.

Ya iyalah, sebahagian jurnalis JP masih di lapangan. Masih bekerja untuk mendapatkan berita supaya besok koran tetap terbit. Sementara  Karyawan redaksi juga terbelah karena ada yang sudah di TIM Cikini untuk pelaksanaan Ultah JP secara resmi.

The team
The team

Saat acara tiup lilin, saya mendadak merenung kenapa saya bisa akhirnya memutuskan bekerja full-time untuk JP.  Ingatan saya masih sangat segar, itu adalah tahun 2002.

Saat itu saya bekerja di sebuah koran lokal Aceh. Gaji saya teramat kecil disana sehingga saya sering “curi-curi” waktu berkontribusi ke JP. Koran saya itu memang tidak mengizinkan wartawannya kerja dengan media lain.  Saya memilih berkontribusi ke JP karena buat saya lebih mulia ketimbang menerima sogokan nara sumber…

Suatu waktu saya membutuhkan tanda tangan pemred koran lokal saya untuk memberikan izin cuti. Saya pun ke ruang pemred untuk pertama kalinya. Yang saya rasakan saat masuk ke ruang itu, kondisinya kosong melompong. Rak-rak buku terlihat kosong. Dinding tak berseri. Pemred saya duduk di depan komputer di meja yang bersih tanpa kertas-kertas atau buku. Saya pikir beliau kerja, eh nggak tahunya sedang main soliter –permainan komputer yang cukup ngetop saat itu—

Pikiran saya saat itu  lho, pemred kok malah main soliter?

Cuti itu saya pergunakan untuk mengikuti workshop AJI, yaitu pelatihan di wilayah konflik.

Ternyata pak Raymond Toruan, Pemred JP waktu itu, tahu kalau saya ada di Jakarta dan beliau mengundang saya untuk mampir ke kantor JP yang lama di Palmerah.

Ini kali pertama saya bertemu dengan Pak Raymond. Saya diantar resepsionins ke ruangannya, yang ternyata lebih kecil dari ruangan pemred saya di Aceh sana. Saya langsung melihat sosok pak Raymond duduk di meja sedang membaca ditemani lampu baca.

Ruang kerja Pak Raymond berantakan. Rak bukunya penuh, malah buku yang tidak tertampung ditumpuk di lantai. Di dinding banyak lukisan yang saya tidak tahu jenis alirannya apa. Beberapa lukisan yang masih terbungkus kertas coklat masih tergeletak di lantai. Saya pikir pak Raymond mungkin tidak tahu mau mengantung dimana lagi lukisannya itu.

Pak Raymond melihat saya sekilas dan berkata “ Duduk dulu Nani, saya selesaikan bab ini dulu baru kita ngobrol,” katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang sedang dia baca.

Saya terkesan sekali saat itu. Dan lebih terkesan lagi saat kami ngobrol ditemani dua kotak nasi padang. Pak Raymond cerita soal Aceh dan kecintaannya pada dunia jurnalistik. Saya lebih banyak mangut-mangut.

Dia sempat menunjukkan beberapa mesin tik jadul miliknya dan koleksi kain-kain tenunan tua yang banyak sejarahnya. Saya melihat mata pak Raymond begitu berbinar-binar menceritakan asal usul koleksinya.

Buntutnya dia menasehati saya untuk menjadi wartawan yang baik. Yang selalu menjaga keselamatan karena berita bagus itu bukan didapat dari wartawan yang mati.

Saya merasakan perbedaan aura pak Raymond ini sangat kontras dengan aura pemred saya di Aceh. Pak Raymond tidak pernah memandang remeh meskipun saya cuma koresponden. Beda dengan Pemred saya yang selalu menganggap wartawan muda seperti saya ini bukan apa-apa.

Saat saya berjabat tangan dengan Pak Raymond sebelum berpisah, saya sudah memutuskan untuk memilih bekerja untuk The Jakarta Post dan keluar dari kantor lama saya. Saya yakin ini kantor yang tepat buat saya untuk membuat saya lebih berkembang.

Saya  merasa Pak Raymond adalah orang pintar dan bos pintar pasti akan membuat anak buahnya seperti saya lebih pintar…

Itulah turning point saya kenapa saya akhirnya memilih bekerja di JP. Sebagai koresponden selama 6 tahun dan wartawan tetap selama 5 tahun.

Dan saat lilin ditiup dan tepuk tangan bergemuruh di ruang rapat sore hari itu tanggal  25 April 2013, saya kembali berpikir. Apakah saya akan tetap di JP atau mungkin ada kejadian lain yang mengubah kehidupan saya ke depan? Allahualam…

3 thoughts on “Ulang tahun JP, Raymond Toruan dan turning point saya

  1. Menarik sekali; saya pernah belajar dengan pak Raymond, walau hanya sesaat tetapi sangat berkesan. Saya memahami bagaimana kemampuannya memberikan mentoring waktu itu kepada kami para aktivis Ornop.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s