Panglima Ishak Daud di mata saya (Bagian IV)

Informasi rencana pembebasan Fery Santoro sangat santer. Wartawan berkumpul di Losmen Kartika Langsa semakin banyak. Mereka berasal dari Banda Aceh, Lhokseumawe, Medan bahkan juga dari Jakarta Kebanyakan adalah wartawan TV yang membawa serta mobil SNG mereka.

Satu kamar losmen ditempati hingga 4 hingga 5 orang karena semua wartawan tidak mau tinggal berpisah-pisah. Mereka takut tidak berhasil meliput pembebasan Fery dan memutuskan stick together till the end.

Dari semua rombongan, saya melihat Imam Wahyudi dari RCTI dan teman-teman dari AJI sibuk menghubungi pihak Ishak dan militer. Menghubungi Ishak Daud untuk prosedur pembebasan Fery dan menghubungi penguasa darurat militer untuk permintaan agar pihak militer bisa memberikan waktu dan tidak menyerang.

Losmen Kartika bertambah ramai karena ditambah relawan PMI dan tentara-tentara. Belakangan penguasa darurat militer daerah (PDMD) Mayjen TNI Endang Suwarya dan para pengawalnya malah ikutan menginap di Losmen Kartika. Kamar mereka tidak jauh dari tempat kami berkumpul🙂

Selain PMI, delegasi ICRC juga terlihat sibuk. Mereka sering melakukan rapat dengan PMI, Militer dan beberapa perwakilan RCTI dan AJI. Mencari formula yang paling tepat untuk pembebasan sang sandera. Pihak Ishak Daud yang diwakili lawyernya Alfian juga selalu terlihat dan menjadi sasaran empuk wawancara jurnalis yang haus berita.

Segala sesuatu bisa berubah setiap hitungan jam. Bahkan konfrensi pers pun bisa dilakukan pukul 12 malam. Saya sempat berpikir kok bisa ada konfrensi pers tengah malam sementara koran sudah naik cetak dan TV sibuk memutar film action saat jam seperti itu.  :)

Semua wartawan punya ambisi sama, yaitu bisa menyaksikan pembebasan Fery. Keinginan itu diakomodir Ishak Daud  yang ternyata mengundang semua wartawan untuk datang tanpa terkecuali. Undangan itu jelas tidak disetujui oleh PDMD karena berbahaya dan memberi peluang untuk GAM menaikkan pamornya.

Setelah beberapa hari mengalami deadlock, akhirnya win win solution dicapai. Fery akan dilepas. Pihak PDMD tidak akan mengerahkan pasukannya selama proses itu. Tidak semua wartawan boleh masuk, hanya beberapa saja yang dipilih dan setujui GAM dan PDMD. Bahan berita, foto, gambar video yang didapat akan menjadi milik semua orang alias poll. Tidak ada ekslusif-ekslusifan karena misi kemanusiaan diutamakan.

Sejumlah nama perwakilan wartawan dipilih. Beberapa di tolak karena bekerja di media asing (yang menolak adalah TNI, sementara Ishak justru sangat senang dengan blow-up media asing). Setelah proses yang cukup panjang itu akhirnya saya dihubungi ketua AJI waktu itu Eddy Suprapto untuk masuk dalam tim.

Alasan memasukkan saya ke tim ternyata karena dua faktor 1. saya perempuan (alamak) 2. saya pernah berhubungan baik dengan Ishak (nah loh). Saya baru sadar ternyata dalam hal emergency seperti ini masalah gender juga harus dipertimbangkan.

Saya sadar sesadar-sadarnya ini bukan pekerjaan yang aman. Masuk ke tempat GAM saat darurat militer? Bisa-bisa ketika keluar saya akan ditangkap oleh militer dan diinterogasi. Apa pun mungkin saat darurat militer.

Teman AJI meyakinkan saya kalau semua akan aman-aman saja.

”Ada Munir RCTI juga dalam rombongan,” kata Pak Eddy saat itu.

Saya melirik Bang Munir yang tersenyum-senyum simpul. Saya mengenal Bang Munir sejak lama.  Beliau teman liputan yang sedikit konyol dan berani. Yang lebih penting beliau wartawan lokal, sama seperti saya. Munir juga kecilnya pernah di Aceh Timur, setidaknya kalau ada apa-apa ada yang bisa saya andalkan.

”Perjanjiannya harus menginap,” kata Pak Eddy.

”Kalau semalam tidak masalah,” kata saya.

Terpilihnya saya dan beberapa teman (Husni Arifin/ Republika, Munir dan Imam/RCTI, Nezar Patria/ Tempo/AJI dan Solahuddin IFJ) menunai berbagai kecaman.  Banyak diantara mereka yang menganggap pemilihan anggota tim tidak fair.

Bahkan saya sempat dimusuhi beberapa teman yang menganggap saya sengaja menyodor-nyodorkan diri supaya bisa dimasukkan ke dalam tim. Saya dianggap terlalu berambisi, egois dan mau menang sendiri.

Andai saja mereka tahu kalau saya menerima permintaan ini murni hanya karena saya ingin Fery cepat bebas. Kami, wartawan lokal, cukup lelah dengan masalah sandera ini dan ingin cepat selesai. Tidak ada pikiran untuk mendapatkan gambar ekslusif dari sana. Kalau bisa saya malah ingin bertukar tempat.

Andai mereka pernah menginap semalam dengan Teungku Ishak seperti yang pernah saya alami tahun 2001, mereka pasti akan tahu bahwa ini bukan keputusan mudah.

Andai mereka tahu bahwa tidak ada seorang pun yang bisa tahu apa yang akan terjadi di ”dalam” sana termasuk juga jaminan bahwa ketika keluar dari sana kami akan selamat.

Menjadi jurnalis di wilayah konflik memang terkesan keren dan semua orang berlomba-lomba ingin pernah merasakannya. Tapi tidak banyak yang tahu kalau nyawa diri dan keselamatan orang banyak lebih penting dari cuma satu dua foto ekslusip.

Akhirnya tanggal 13 May tim kami berangkat ke kawasan Peudawa. Menuju Desa Lhok Jok. Tidak pernah saya bayangkan bahwa saya akan mengalami hal yang lumayan membuat saya trauma di sana..

(BERSAMBUNG)

One thought on “Panglima Ishak Daud di mata saya (Bagian IV)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s