Panglima Ishak Daud di mata saya (bagian I)

Saat sekarang banyak sekali panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini sudah menjadi orang penting di pemerintahan Aceh. Banyak diantara mereka yang belum saya kenal karena tiba-tiba muncul saat perdamaian Aceh.

Dari banyak panglima GAM, saya kok lebih terkenang pada Ishak Daud, mantan panglima GAM wilayah Peurelak. Teungku Ishak ini sudah almarhum, tetapi sepertinya beliau begitu hidup dalam pikiran saya sebagai wartawan yang pernah meliput lama di Aceh.

Teungku Ishak Daud
Teungku Ishak Daud

Saya mengenal almarhum Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Peurelak Aceh Timur tahun 2001. Saat itu saya diajak oleh senior saya Murizal Hamzah ke pedalaman Aceh Timur untuk bertemu beliau dan pasukannya.

Saat itu yang ada di kepala saya, sebagai wartawan muda yang masih miskin pengalaman dan agak naif, adalah Ishak Daud itu pemimpin GAM yang kejam. Dia sering menculik orang-orang yang dekat dengan militer seperti anak sekolah atau juga wartawan yang dianggapnya berat sebelah.

Info lain yang saya terima adalah beliau itu kebal, ditakuti dan sangat berani. Ketenaran Teungku Ishak sebagai panglima GAM itu membuat kawasan Aceh Timur termasuk kawasan yang paling rawan waktu itu.

Tapi berhubung saya penasaran terhadap komandan GAM yang satu ini, saya menerima ajakan Murizal🙂

Kami berangkat dengan rombongan TVRI (media yang sering jadi bulan-bulanannya Teungku Ishak) menuju Aceh Timur dari Banda Aceh. Saya satu-satunya perempuan dalam rombongan itu.

Kami berhenti di kawasan Idi, Aceh Timur, dan mengunakan RBT atau ojek untuk mencapai Desa Keude Geurubak, yang waktu itu dianggap kawasan “hitam” oleh TNI.

Saya sempat terkagum-kagum melihat Teungku Ishak yang ternyata cool banget and was totally manly. Tubuhnya tinggi besar dan tegap. Cara bicaranya tegas, berlogat melayu dan sering sinis bila ditanya menyangkut kondisi Aceh dan kebebasan pers.

Beberapa orang yang dekat dengannya memanggil Teungku ini dengan sebutan “Abusyik” atau kakek. (Kelak saya akan memanggil beliau dengan sebutan itu juga)

Saat kunjungan pertama ini, Ishak membawa saya dan rombongan keliling kawasan Keude Geurubak. Melihat rumah-rumah yang dibakar, korban kekerasan TNI (tentu saja),  dan kawasan perkebunan sawit yang sepi karena ditinggalkan oleh pekerjanya. Banyak rumah yang  rusak dan sudah ditinggalkan penghuninya. Kaca pecah dan dinding berlubang menjadi saksi bisu pertempuran sengit TNI/Polri dan GAM.

Siang tiba. Kami makan siang di bawah pohon sawit sambil berdiri karena tidak ada tempat duduk. Masing-masing kami diberikan sebungkus nasi putih dan eungkot meunuloh teutumeh (ikan bandeng tumis aceh) dalam plastik yang entah kenapa rasanya kok sangat enak. Selesai makan kami masih diajak tour dengan melihat keadaan desa.

Rasanya agak aneh begitu melihat banyaknya gerilyawan GAM bersenjata AK-47 berkeliaran dengan bebasnya. Beberapa dari mereka malah ada yang menjinjing ikan untuk keluarganya. Itu merupakan pengalaman pertama saya berada di antara para gerilyawan. Padahal saya tahu mereka sedang dikejar-kejar oleh aparat keamanan.

Menjelang sore, teman-teman TVRI minta izin untuk pamit. Diluar dugaan Teungku Ishak meminta kami bermalam disana. Kami mencoba menolak dengan alasan tidak membawa peralatan mandi. Menginap bukanlah masuk dalam schedule kami di tempat yang sangat bahaya itu.

“Tenang, semua akan kami siapkan,” katanya tersenyum lebar seakan tahu kalau  masalah peralatan mandi hanya alasan saja.

Anak  buah Teungku Ishak kemudian datang dengan membawa handuk, sikat gigi, sabun dan bahkan shampoo satu botol besar.

“Nah, ini pasti cukup untuk sebulan kan?” katanya terbahak.

Saya tersenyum kecut. Jelas saya tidak berminat untuk tinggal disana sebulan.

Yang pasti saya tidak bisa menghubungi siapa pun untuk memberi tahu saya menginap di Keude Geurubak bersama Teungku Ishak dan pasukannya. Tidak ada sinyal disana karena pihak GAM saja mengunakan telepon satelit.

Kalau pun ada sinyal, saya juga tidak mungkin menelpon mamak saya karena beliau pasti kena serangan jantung. Meskipun saya takut dan khawatir, tapi jujur saja di hati saya yang paling dalam saya begitu excited hehehe (dasar wartawan :))

Sehabis shalat magrib, kami mengikuti Teungku Ishak dan pasukannya ke sebuah tempat yang saya tidak tahu pasti dimana. Saya hanya mendengar suara air sungai. Kami berjalan tersuruk-suruk karena kondisi jalan yang begitu gelap tanpa penerangan lampu jalan. Sesekali saya menyenggol laras AK-47 atau M-16 milik para gerilyawan yang terasa begitu dingin.

Kami tiba di sebuah gubug dari bambu yang lantainya masih berupa tanah. Suasanya gelap gulita. Tidak ada listrik karena penerangannya adalah lampu templok yang temaram. Di dalam gubuk sudah ada makanan dan juga buah-buahan. Saya keheranan melihat ada apel dan anggur disana. Teungku Ishak tersenyum lebar melihat ekspresi saya.

“Siapa bilang kami ini terisolir? Buktinya kalian bisa makan buah-buahan seperti ini,” katanya bangga.

Malam itu saya dapat giliran mewawancara Teungku Ishak untuk koran saya (waktu itu saya bekerja untuk Tabloid Kontras, anak usaha harian Serambi Indonesia). Dalam penerangan lampu minyak kami ngobrol banyak, mulai dari perjuangan GAM, cita-cita GAM dan seperti biasa Ishak mengritik wartawan yang tidak pernah mau independen dan selalu membela TNI.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami diminta tidur.

“Yang laki-laki tidur dengan saya di bale-bale ini. Nani biar tidur di kamar sana, dia kan perempuan,” kata Teungku Ishak.

Saya terkesan saat itu. Ishak ternyata sangat menghormati perempuan. Dan sikap penghormatan itu tetap terlihat saat saya bertemu beliau beberapa kali setelah ini.

Malam itu begitu gelap dan sunyi. Saya berbaring di bale-bale yang cuma dialasi tikar pandan tanpa bantal tanpa bisa memejamkan mata sama sekali.  Gubuk itu kembali gelap gulita karena lampu minyak sudah dimatikan. Hanya suara-suara bisikan beberapa pria di luar gubuk yang ternyata sedang dapat giliran jaga.

Saya teringat pulpen saya yang ketinggalan di meja tadi. Baru akan melangkah ke keluar kamar, saya merasa menginjak tubuh manusia. Rupanya ada prajurit GAM yang tertidur di depan kamar saya.

Saya mengurungkan niat untuk keluar kamar kembali ke bale-bale saya. Yang pasti saya sama sekali tidak tidur malam itu.

Menjelang subuh saya akhirnya berhasil keluar kamar. Saya melihat Teungku Ishak sedang shalat di bale-bale sementara wartawan lain masih tertidur. Beliau shalat begitu khusuk dan tidak menyadari kehadiran saya.

Akhirnya pagi datang (ini pagi terlama yang pernah saya alami). Saya dan teman-teman wartawan ke sungai yang ternyata terletak di belakang gubuk untuk cuci muka. Teman dari TVRI mengomel-ngomel karena mereka kenyang dinasehati Ishak Daud soal bagaimana media harus independen Hehehehe

Menjelang pukul 8 pagi kami dilepas Teungku Ishak dan pasukannya pulang. Kami pun berpamitan.  Ada sebuah L-300 (kendaraan angkutan di Aceh) yang menjemput kami di Keude Geurubak, saya pikir itu pasti atas suruhan sang panglima. Kami naik ke mobil L-300 itu yang melaju meninggalkan Teungku Ishak yang melambaikan tangan..

(BERSAMBUNG)

 

 

10 thoughts on “Panglima Ishak Daud di mata saya (bagian I)

  1. ini sebuah catatan penting dari seorang jurnalis aceh yang meliput konflik di negerinya sendiri. Nani berhadapan dengan manusia-manusia yang bukan sembarang manusia, tetapi manusia –atau bolehlah saya sebut kelompok, yang meskipun bersenjata tetapi meyakini ruh ke-aceh-an dan ke-islaman yang mereka punya. Ideologi dan nurani kaum separatis yang berani dan tidak ingin dibodohi jelas kelihatan dalam diri Tgk Ishak Daud, yang menurut Nani sangat ‘manly’ itu. Ya, laki-laki aceh umumnya memang ‘manly’ atau istilah orang Jakarta ‘laki banget!’ karena biasa hidup dalam situasi perjuangan semenjak kecil. Nani beruntung boleh dan diizinkan melihat langsung kehidupan para pejuang itu, suatu keistimewaan yang tidak semua wartawan perempuan punya (untunglah ga dikawinin kau, Kak! hahaa). Sejarah hanya akan berpihak pada orang-orang yang berani dan jujur akan keberaniannya itu. Semoga catatan ini membawa manfaat🙂

    1. Thanks pujiannya Wel, aku sampai melayang-layang nih. Catatan kecil ini memang sebenarnya menunjukkan bagaimana wartawan di wilayah konflik mencoba menemukan nara sumbernya. Cover both side is a must meskipun sebenarnya sangat berbahaya.

      Tetapi terlepas dari soal journalism, Teungku Ishak emang cool dan sangat berwibawa. Percaya atau tidak, selama aku mengunjungi beliau, tidak pernah ada anak buahnya yang berani mengolok-olok atau mengangguku hanya karena aku perempuan hehehe…

  2. Hebat Nan, tulisanmu. Seperti Wella bilang, ini tulisan yang istimewa, mampu mengenali dan menceritakan keAcehan dan kepribadian Ishak Daud. Saya tidak sehebat dan seberuntung Nani karena baru ketemu panglima2 GAM setelah MoU Helsinki. Proficiate, Nan!

    1. Wah dipuji sama Pak Tossy nihh… trims ya pak. Sebagai wartawan kita memang sesekali harus bercerita dibelakang pemberitaan kita… jadi semua tahu bahwa untuk mencari berita tidak semudah membaca berita..

  3. asalamu’alaikom wr/wb
    loen seubagoe aneuk bangsa aceh ingin langsoeng nak berhubungan/nak meuturie langsoeng ngoen poe pos njoe/Nani Affrida.

    loen mohon balasan bak droe neuh kak.

    TTD.Ijzal.
    Phone.601116199750.
    mail.Aneukmuda7715@gmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s