Repotnya Kena Tilang

Hari Sabtu biasanya saya dan suami saya Emilio berbelanja ke pasar Pal Depok, yang berada di Jalan akses UI untuk kebutuhan stok ikan dan sayur selama seminggu.

#Facts on Pasar Pal :

  • Sayurnya murah
  • Ikannya segar
  • Pedagangnya nggak rese’ (misalnya menolak memeras santan kelapa pakai mesin hanya karena saya cuma beli satu butir kelapa saja)

Nah pagi Sabtu itu sekitar jam 7.30 kami meluncur ke Pal dengan mengunakan Mio kesayangan🙂 .  Karena kawasan itu kami anggap dekat, maka peralatan kami tidak lengkap-lengkap banget, kecuali SIM, STNK dan satu helm yang dipakai Emilio.

Jadi tak heran kami sempat kaget melihat adanya razia polisi di dekat fly over  UI. Tanpa ampun kami distop polisi berpangkat briptu (Jadi ingat briptu Norman yang ngetop setelah masuk ke youtube). Saya tidak bisa melihat nama sang polisi karena dia pakai rompi lantas berwarna hijau jrengg.

Kami digiring ke pos lantas di dekat situ untuk diproses karena tidak mengunakan dua helm. Sumpah, belum pernah kami mengalami hal ini. Kalau kepergok razia sih sering, tapi nggak tahu ya, selalu saja lolos.

”Bapak tahu kesalahannya? Tidak pakai helm. Ini melanggar pasal bla bla bla dan dendanya maksimal ini…” Pak Briptu menunjukkan angka nominal yang tertera di sehelai kertas di meja pos.

Kami mangut-mangut. Pak Briptu membuka blanko tilang dan mulai mencatat keterangan dari SIM Emilio.

#Facts on Blanko Tilang: Satu blanko terdiri dari beberapa warna

  • Merah untuk pelanggar yang ingin menghadiri sidang,
  • Biru untuk pelanggar yang ingin menitipkan ke bank yang ditunjuk,
  • Hijau untuk pengadilan,
  • Kuning untuk polisi dan
  • Putih untuk kejaksaan.

”Kalau bisa prosesnya yang cepat saja Pak,” kata Emilio yang hari itu kurang sehat dan batuk-batuk.

Diluar dugaan Pak Briptu kelihatannya tersinggung. ”Maksud bapak apa biar cepat saja?” katanya.

Emilio cengengesan ”Ya, nggak usah pengadilan segala, saya maunya yang bayar denda saja,”

Pak Briptu kini tersenyum. Mungkin tadi beliau merasa mau disogok sama Emilio biar lolos tilang… Yang bener ajee pak, kita mah males sogok menyogok.

”Ohh yang form Biru, boleh… ” katanya.

Tulisan Pak Briptu huruf besar semua (maklum polisi dan tentara kan sukanya huruf besar, mungkin supaya kesannya tegas dan urgent gitu kali ya). SIM Emilio ditahan.

”Ini bayar dendanya ke BRI Nusantara di Depok ya, kalau sudah bayar bawa ke satlantas Depok untuk ambil SIM-nya,” kata Pak Briptu.

”Kan bisa online pak, apa mesti ke BRI Nusantara? BRI lain pasti bisa,” kata saya.

Pak Briptu mengeleng. ”Harus di BRI Nusantara,” katanya tegas

”Nomer rekeningnya?” tanya saya karena di form itu tidak ada tanda-tanda nomer rekening.

”Di BRI Nusantara ada nomer rekeningnya,” katanya pendek

Busyettt…

Sekilas saya melihat Pak Briptu mencontreng kotak  dalam Blanko yang mengharuskan kami membayar denda Rp 100,000. Itu jumlah terkecil dari kotak-kotak lain yang isinya antara Rp 250,000 sampai Rp 1 jutaan.

Saya melirik Emilio. Sepertinya kami berdua bersyukur memilih blanko biru karena denda maksimalnya tidak begitu berat. Kalau harus bayar denda maksimal sampai Rp 1 jutaan, lebih baik ikut sidang saja sekalian🙂. Tidak apa-apa bila harus menunggu sampai 2 minggu untuk sidang itu.

Kami pun pulang dengan membawa blanko biru. Meneruskan belanja? Sepertinya gagal karena kami harus mengurus SIM dan harus ke BRI secepatnya.

Setelah mandi dan rapi, kami bersiap-siap ke BRI. Tiba-tiba kami teringat kalau hari ini hari Sabtu. Bank jelas tutup semua. Tapi bagaimana nasib SIM kami?

Rupanya di Buku Petunjuk Teknis tentang penggunaan Blanko Tilang (Lamp SKEP KAPOLRI Skep/443/IV/1998) halaman 18 tertera kalau kita bisa menyetor uang titipan ke petugas khusus bila bank yang ditunjuk untuk menerima penyetoran uang titipan pelanggar tutup karena hari raya/libur dsb.

Berdasarkan informasi itu, saya dan Emilio meluncur ke BRI Nusantara. Ternyata oh ternyata BRI-nya tutup..oh noooo. Kami diminta petugas untuk datang hari senin. Oh nooooo lagi.

Hari Seninnya saya yang Emilio sudah nongkrong di BRI Nusantara sejak pukul 7 pagi (Kami baru tahu kalau bank ini bukanya jam 8 pagi). Kami mengantongi nomer antrian 13. Ternyata ada yang lebih pagi lagi dari kami hehehehe.

”Mau bayar tilang pak?” kata Mbak-mbak teller itu dengan ramahnya ke Emilio.

”Iya, ini Rp 100 ribu,” kata Emilio.

“Dendanya nggak sebanyak ini, jadi nanti foto kopi  blanko dan tanda pembayaran untuk ambil kembaliannya kesini setelah sidang,” kata si Mbak tadi lagi.

He, ada kembaliannya?Keren juga nih Pikir saya.

Kami pun meluncur ke Polresta Depok.  Oleh laki-laki berpakaian preman di kawasan pelayanan umum, kami diminta untuk langsung ke Satlantas bagian tilang. Ruangannya ke bawah dan lumayan ngumpet. Tapi pas masuk ke dalam kami disambut dinginnya AC. Ruang bagian tilang itu sepi tanpa ada pengunjung.

Bapak-bapak berpakaian sipil menyambut kami dan mengambil blanko biru dan bukti pembayaran.

“Kok sepi ya pak,” tanya saya.

”Nanti juga ramai,” kata si bapak-bapak itu.

Rupanya kami kepagian juga kesini, pikir saya

Kami menunggu hanya lima menit. Si bapak memberikan SIM Emilio kembali. Emilio kelihatan semringah dan kami kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan senang. Mendadak senyum Emilio hilang begitu melihat kondisi SIMnya.

Ternyata eh ternyata ada bekas steples di SIMnya yang sebelumnya mulus lus lus.

”Loh, kan nggak apa-apa, yang penting SIM-nya kembali,” kata saya.

”Ini bisa jadi kode bahwa kita pernah ditilang,” kata Emilio, yang kebanyakan membaca buku tentang intelejen, mengeluh.

Saya tak bisa menahan tawa. Hahahahaha…

2 thoughts on “Repotnya Kena Tilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s