Tips kecil meliput di kawasan konflik

Meskipun saya lulusan fakultas komunikasi, saya sama sekali tidak punya pengalaman meliput di wilayah konflik seperti Aceh.  Mantan redaktur saya saat masih bekerja di tabloid Kontras  Serambi Indonesia Bang Muharram M Nur *  banyak memberi tips, dan saya pikir tips itu masih relevan dengan sekarang (tinggal disesuaikan saja).

Tips-tips ini jelas tidak ada di buku jurnalistik manapun karena berdasarkan pengalaman bang Muharram dan juga beberapa pengalaman saya kemudian.

Ini beberapa tips yang saya share disini

  • Usahakan bicara dengan bahasa daerah sehingga lebih gampang mendekati nara sumber seperti pengungsi dan korban konflik
Pemakanan massal korban sipil di Desa Mata Mamplam Bireun
Pemakanan massal korban sipil di Desa Mata Mamplam Bireun 2003 (Photo By Nani Afrida)
  • Selalu membawa permen kalau mengunjungi perkampungan atau pengungsian. Di wilayah konflik orang dewasa biasanya sulit mempercayai orang asing meskipun itu wartawan. Permen itu bisa dibagikan kepada anak-anak, sehingga bila kita bisa dekat dengan anak-anak maka akan mudah mendekati orang tua mereka
  • Jalin hubungan dengan narasumber tapi tetap bisa jaga jarak. Jangan bermuka dua dengan menjelek-jelekkan satu pihak demi mendapatkan simpati pihak lain.  Bila kita melakukan hal itu, pasti mereka akan curiga dan menganggap kita akan melakukan hal sama dengan musuh mereka (They are not stupid fellas)
  • Baca banyak background, background, background dan berita-berita sebelumnya sebelum turun ke wilayah konflik. Itu mutlak perlu. Wartawan harus tahu itu konflik karena agama, ras, separatism atau konflik ekonomi. Jangan turun ke wilayah konflik dengan tangan kosong.
  • Nara sumber perempuan di wilayah konflik biasanya lebih jujur dari nara sumber laki-laki karena para lelaki suka melebih-lebihkan sesuatu (nah loh)
  • Terkadang salah satu pihak bertikai meminta wartawan bisa menyeludupkan kamera untuk mendapatkan gambar dan kekuatan musuhnya. Sedapat mungkin hindari hal ini. Ingat, kita bukan bagian dari mereka. Kita ini WARTAWAN.
  • Wartawan harus bisa menyaring informasi yang diberikan nara sumber, jangan setelah berita dipublikasikan nara sumbernya dalam bahaya.
  • Jangan bertanya atau wawancara korban penangkapan seperti interogasi yang dilakukan aparat keamanan. Wartawan harus berbeda cara bertanyanya, harus lebih sopan, jangan berlebihan apalagi menakut-nakuti.
  • Mendengar dengan teliti saat nara sumber bicara. Meskipun keterangan mereka berbeda atau ngaco atau salah jangan dibantah. Kita sedang di wilayah konflik, men. Profesi kita itu mendengar bukan didengar. Kita cuma butuh konfirmasi.
  • Bila mengunjungi markas gerakan separatis, janganlah setelah itu kemudian melapor kepada aparat keamanan dimana pertemuan itu diadakan. Jadilah wartawan yang bisa dipercayai dua belah pihak.
  • Terkadang salah satu pihak –yang kebetulan suka kita—akan menceritakan rahasia rencana atau kekuatan senjata mereka. Tentu saja itu bukan untuk dikutip karena rahasia. Sangat tidak etis kalau rahasia yang mereka sampaikan kita bocorkan ke musuh mereka.
  • Jangan pernah menunjukkan rasa takut dan panik bila pihak pertikai mengancam kita. Rasa takut akan membuat mereka akan lebih mudah mengintimidasi.
  • Usahakan berpakaian sesuai dengan kondisi liputan. Bila liputan kemungkinan ke gunung atau tempat yang jauh usahakan pakai sepatu kets dan jangan pernah lupa membawa selalu baju ganti, sarung, handuk dan sikat gigi untuk saat-saat tidak terduga.
Anak-anak dengan senjata mainan mereka di kawasan Pidie
Anak-anak dengan senjata mainan mereka di kawasan Pidie 2006. Photo By Nani Afrida
  • Setiap akan pergi ke suatu tempat yang ada hubungannya dengan pihak bertikai, usahakan memberi tahu kantor atau orang yang bisa dipercaya. Jadi kalau hilang bisa dicari.

*bang Muharra M Nur adalah mantan ketua AJI Banda Aceh. Beliau hilang saat Tsunami di Aceh tahun 2004. May God bless him always…

5 thoughts on “Tips kecil meliput di kawasan konflik

  1. Tips yang sangat bermanfaat, meski saya bukan wartawan, tapi pengalaman jadi enumerator juga mirip2 dengan yang ini.
    Dan…sangat suka dengan foto aneuk manyak di atas. sepertinya calon jenderal smua😀

    1. Halo bang Moer… trims atas kunjungannya ke blog saya.. memang foto anak-anak itu saya ambil ketika lebaran, saat mereka semua sibuk bermain dengan senjata mainan.. Aminn.. semoga semua menjadi anak yang berani dan berjuang di jalan yang benar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s