Following my own heart by choosing UPEACE…

Setelah berfikir beribu-ribu kali, saya memutuskan untuk menerima beasiswa Asia Leader Programme (ALP) dari University for Peace  (UPEACE) yang disponsori oleh Nippon Foundation Jepang. Jujur saja semula saya sempat gamang karena saya juga diterima untuk mengambil master di Univ Otago New Zealand dibawah pembiayaan NZAS scholarships.

upeace

Untuk Upeace saya rencananya akan belajar soal Media, Peace and Conflict Studies (adik saya bilang, saya tidak kreatif sehingga memilih jurusan ini. Dia meramalkan sampai mati pun saya akan tetap berurusan dengan media).

Menurut jadwal, saya akan menghabiskan 8 bulan di Manila Philipina dan 10 bulan di Costa Rica. UPEACE di Costa Rica merupakan main campus, sementara di Manila saya –katanya- akan belajar lebih dalam soal bahasa dan implementasi ilmu yang saya peroleh ke depannya.

Belajar akan dimulai bulan May akhir 2013 di Phipina dan saya akan mengikuti training bahasa inggris untuk kelas advance selama 3 bulan sebelum berangkat ke Costa Rica.

Orang pasti berpikir saya memilih UPEACE karena bisa belajar di dua negara. Tapi sebenarnya bukan itu alasan saya.  Jujur saja, bolak balik naik pesawat dengan zona waktu berbeda bisa membuat saya gila🙂  Kalau bisa memilih saya lebih suka belajar di satu tempat saja dengan fasilitas belajar yang lebih memadai.

Sementara, editor saya, Ati Nurbaiti malah berpikir kalau saya memilih UPEACE karena saya ingin menikmati alam Costa Rica yang terkenal dengan laut dan hutannya termasuk juga dengan prianya yang ganteng-ganteng.. alamakkkk..😀

Yang jelas alasan saya cukup sederhana. Bisa belajar banyak tentang konflik dan perdamaian memang menjadi cita-cita saya sejak saya belum menjadi wartawan di Aceh. Sudah tak terhitung lagi jumlah air mata saya  yang tumpah melihat tanah asal saya itu luluh lantak oleh konflik.

Sejak SMP saya sudah merasakan hidup di kawasan yang tidak aman, dengan suara tembakan,  jenazah yang bertebaran yang semuanya menyebabkan ketakutan dan terror diantara masyarakatnya.

Keinginan itu makin membara saat saya menjadi wartawan dan bersentuhan langsung dengan pelaku konflik : GAM dan TNI dan juga korban konflik. That was an awful experience…

saat Milad GAM Aceh Besar 2002
Free Aceh Movement group in Great Aceh’s hideout
military withdrawal in Krueng Geukuh, North Aceh
military withdrawal in Krueng Geukuh, North Aceh

Tak heran, saat pihak UPEACE Costa Rica mewawancarai saya via Skype, saya merasa seperti ikan yang berenang di kolam. It feels like home dan saya mulai berpikir, kampus inilah yang paling cocok untuk saya. (Perasaan yang sama ketika saya memutuskan untuk mengabdi pada The Jakarta Post dan meninggalkan Serambi Indonesia Aceh)

Saya memilih UPEACE sepertinya lebih mengikuti kata hati.  Dan entah kenapa saya merasa happy dengan pilihan saya ini..

Peace Keeping center in Sentul, West Java, after opening ceremony. The center will be the biggest peace keeping center in ASEAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s