This is Asean Spirit

Ketika saya masih sekolah di kelas enam SD di Aceh, saya belajar tentang ASEAN dari guru saya. Saya masih ingat berapa bangganya saya bisa mengucapkan kepanjangan  ASEAN dengan bahasa Inggris, terasa keren sekali.

Berdasarkan pengetahuan saya waktu itu, Asean merupakan organisasi yang anggotanya terdiri dari negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam. Para pemimpin negara mendirikan ASEAN untuk memperkuat kerjasama antara negara-negara tetangga.

Selama bekerja menjadi wartawan, saya telah bertemu banyak rekan wartawan internasional. Kami biasanya saling bertukar pengalaman dan pengetahuan meliput di daerah masing-masing.  Dan entah kenapa saya menyadari bahwa saya lebih akrab justru dengan wartawan yang berasal dari negara-negara ASEAN.

Misalnya ketika saya ikut pelatihan menulis berita ekonomi di Berlin, Jerman selama dua bulan.   Saya dan tentu saja kelompok Indonesia lainnya lebih mudah berteman dengan wartawan Vietnam dibandingkan dengan peserta lainnya.

Masalahnya kami sering berbagi kebiasaan yang sama, misalnya belum kenyang kalau belum makan nasi  :) . Konon ada rekan dari  Vietnam ini khusus membawa rice cooker dari Hanoi untuk bisa makan nasi dan kami dari Indonesia sering numpang masak nasi di rice cookernya.

Kita juga bisa berdiskusi dan duduk bersila di lantai dengan mudah . Hal ini sering diprotes teman-teman dari Afrika karena mereka tidak bisa melipat kaki untuk duduk di lantai.

Diskusi kami bahkan lebih nyambung karena teman-teman Vietnam tahu banyak tentang Soekarno, presiden pertama Indonesia dan bahkan beberapa dari mereka (yang gila sepak bola tentu saja) kenal dengan Bambang Pamungkas, bintang sepak bola Indonesia.

Saya belajar banyak hal tentang komunisme di Vietnam dan bagaimana orang-orang di Vietnam bertahan dari kekurangan makanan sampai akhirnya dapat mengimpor beras ke Indonesia.

Kami berbagi merek kopi yang sama yaitu Nescafe (Kopi nescafe produk Vietnam lebih keras sementara kopi nescafe indonesia lebih manis) dan juga mie instan. Mie instant dari Vietnam tak kalah variannya seperti di Indonesia, tetapi beberapa mereka mengunakan minyak babi.

Selain di Berlin, saya juga mengalami pengalaman lain ketika saya mengunjungi China beberapa bulan yang lalu. Tanpa alasan apapun dan tidak ada niat untuk melakukannya, kelompok Indonesia langsung akrab dengan wartawan dari Malaysia dan Thailand.

Hanya butuh dua hari–dari sekitar 12 hari kunjungan–untung langsung akrab. Kami sama-sama mengerutkan kening saat CPC alias Communist Party of China bercerita bagaimana sejarah mereka bangkit dari keterpurukan. Jelas saja kami mengerutkan kening karena kami sama-sama membayangkan bagaimana cara negara kami bisa semaju China.

Kami juga bisa bercanda, berdiskusi dan bahkan menggoda satu sama lain tanpa merasa terluka.

Misalnya rekan Indonesia bertanya mengapa Malaysia sangat berambisi mengklaim Rendang, hidangan nasional kita dari Sumatera Barat, dan tari Tor Tor dari Sumatera Utara. Dia menyarankan Malaysia untuk mengklaim juga Tom Yam, sup asam Thailand.

Pada waktu itu, wartawan Malaysia kami hanya tertawa dan teman Thailand mengatakan mereka tidak masalah karena Tom Yam telah menjadi hidangan internasional.

Di Cina, ribuan kilometer dari Jakarta dan Kuala Lumpur, Indonesia dan Malaysia menjadi  akrab dan saling memahami. Sungguh aneh.

Para jurnalis dari Indonesia dan Malaysia bahkan telah lupa hubungan ”aneh” Malaysia dan Indonesia yang punya banyak masalah seperti masalah tenaga kerja Indonesia, migran ilegal, klaim budaya dan sengketa teritorial.

Justru selama kunjungan itu, wartawan dari ASEAN saling membandingkan bagaimana memecahkan kasus korupsi dan masalah lalu lintas macet. Seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand memiliki kondisi yang sama; misalnya memiliki polisi yang berbody chubby dan suka sok galak, sementara polisi di China justru ramping dan tanpa senjata.

Suatu saat rekan saya dari stasiun TV di Indonesia mendadak ”hilang” saat kami mengunjungi Great Wall di Beijing. Hilangnya si kameramen membuat wartawan lain dan panitia ngamuk-ngamuk karena khawatir kehilangan waktu untuk makan siang.

Tentu saja kita tidak bisa meninggalkan rekan kami di Tembok Besar sendirian hanya karena takut kehilangan jam makan siang. Kami pergi dari Indonesia bersama-sama dan harus kembali bersama-sama.

Anehnya, teman-teman wartawan dari Malaysia dan Thailand memutuskan untuk bergabung dengan grup Indonesia. Pada waktu itu kami sangat senang dan merasa ada semangat ASEAN.

Kami memang hampir melewatkan makan siang karena si kameramen muncul setengah jam kemudian. Tapi kami merasa nyaman karena didukung oleh Thailand dan Malaysia yang membeking kami dari protes peserta lain.

Pada waktu itu, saya bisa mengerti mengapa para pemimpin kita mendirikan ASEAN. Ini bukan hanya tentang menciptakan hubungan yang kuat antara negara-negara tetangga, tapi ada alasan besar di balik itu.

Saya pikir negara-negara Asean memiliki banyak kesamaan seperti budaya dan kebiasaan. Kesamaan ini telah membuat semua negara menjadi bersatu, saling membutuhkan dan saling mendukung. Kesamaan juga membawa manfaat lain bahwa kerjasama akan berjalan lancar.

Memang, perasaan ini akan sulit muncul bila kita tinggal di negara masing-masing. Biasanya kita pasti akan ”berkelahi” dengan negara tetangga karena hal-hal yang sebenarnya bisa dicari jalan keluar secara damai.  Kita akan terus-terusan tidak akur dengan tetangga, dan itu memang normal karena jarak yang berdekatan dan adanya kesamaan yang tidak kita sadari.

Tapi coba deh kalau kebetulan kita semua berada di luar ”zona aman” itu,  pada saat itu tetanggalah yang paling mengerti kita.  And you will feel it….

3 thoughts on “This is Asean Spirit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s