Setengah Hari di BNPT

Menunggu memang pekerjaan sejati wartawan. Bahkan ada seorang teman yang menyatakan kalau wartawan itu dibayar kantornya untuk menunggu. Tidak peduli menunggu hingga tengah malam, yang penting  mereka dapat konfirmasi atau isu baru.

Sebagai wartawan saya punya bermacam-macam pengalaman menunggu nara sumber atau event-event tertentu. Mulai dari cuma sekedar menunggu selesainya rapat petinggi untuk doorstop, hingga menunggu sampai dua tiga hari di sebuah tempat untuk bisa memotret pelaksanaan perayaan hari lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) beberapa tahun yang lalu di Aceh.

Menunggu sudah jadi teman baik saya sebagai wartawan.🙂

Nah, kemarin, saya menghabiskan waktu hingga tiga jam di Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) menunggu giliran mewawancarai ketua BNPT Pak Ansyad Mbai. Salah saya juga sih kepagian datangnya jadi menunggunya lebih lama lagi (saya memang selalu berusaha tidak terlambat).

Sialnya hari itu saya lupa membawa air mineral, sehingga selama tiga jam itu saya dilanda kehausan yang amat sangat. Tidak ada air (apalagi kopi) untuk tamu wartawan seperti saya. Jadi saya terpaksa menunggu dengan sabar dan dianggap angin lalu oleh pegawai BNPT yang bolak balik di depan saya.

Kantor BNPT itu lokasinya di tengah kota. Tidak ada plang nama. Gerbangnya dijaga beberapa orang berseragam safari. Hanya satu dua orang yang memakai pakaian seragam brimob dan menenteng senjata laras panjang SS-1.Saya mesti mengisi daftar tamu berikut nama, institusi, kepentingan, dan nomer telpon.  Kemudian ID card saya ditahan. Sebagai penganti saya diberikan badge bertuliskan TAMU dengan nomer 15.

Hingga sampai sekarang tidak ada yang bisa konfirmasi, mengapa kantor BNPT terletak di tengah kota? Beberapa penjaga yang saya tanyai cuma bisa cengar cengir tanpa memberi penjelasan.

Ini kali kedua saya bertandang ke kantor ini. setahun yang lalu saya juga pernah datang dan menunggu di tempat yang sama. Kali itu saya menunggu cuma 1 jam, karena saya mendapat info Pak Ansyad ada di DPR. Saya pun meninggalkan kantor itu dan langsung ke DPR.

Meskipun di tengah kota Kantor BNPT itu teduh. Ada beberapa pohon mangga tumbuh di depan kantor. Salah satunya mangga apel, yang kata penjaganya, sering sekali berbuah dan mereka sering panen. Seorang petugas kebersihan datang setiap 10 menit sekali untuk menyapu daun mangga yang jatuh di atas pavling blok.

Banyak mobil yang terparkir di halaman BNPT yang lumayan sempit. Kebanyakan adalah kijang avanza. Si penjaga mengeluh kalau lahan parkir BNPT kesempitan, sehingga kalau ada acara sering sulit untuk tamu memarkir mobilnya. Maklum BNPT adalah badan yang lumayan ngetop di Indonesia, apalagi kalau kasus teroris mulai muncul.

Selain wartawan tulis seperti saya, BNPT juga sering kedatangan wartawan lokal dan asing. Ada juga wartawan lokal yang sengaja “live” di tempat itu dengan membawa perlengkapannya. Biasanya acara live itu sering merepotkan penjaga BNPT, ya karena itu tadi, lahannya sempit. Tapi para pegawai hepi-hepi saja secara mereka bisa masuk TV.

Seorang pegawai menjelaskan kalau sebentar lagi kantor BNPT akan pindah. “Ini sementara, nanti kami akan pindah. lagipula kami ngontrak disini,” kata si pegawai yang mengunakan pakaian safari.

Giliran saya wawancara memang agak lama. Sebelum saya ada wartawan Metro TV yang sudah menunggu sejak jam 11 pagi (saat itu sudah jam 14.30 siang), setelah Metro TV ada rombongan orang asing yang juga akan bertemu BNPT, setelah itu akan ada juga dari Universitas Indonesia. Saya tidak tahu tamu dari UI itu adalah researchers atau dosen. Yang pasti mereka mungkin sudah sangat lama nunggu giliran karena mulai main pokeran dengan kartu yang tersedia disana.

Saya memandang sekeliling. mencari cara melupakan dahaga. Terlihatlah daftar koran dilanggani BNPT. Daftar itu ditempel di dinding dengan mengunakan selotip. Ternyata BNPT berlangganan Kompas, Tempo, Rakyat Merdeka, Republika, Media Indonesia, dan ahaaaa juga koran saya The Jakarta Post.

Kelamaan duduk, saya lalu ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari ruang tunggu. Kamar mandinya heteroseksual alias bisa untuk laki-laki dan perempuan. Tidak ada tisu disana. saya langsung cuci tangan dan keluar secepatnya.

Saya kembali duduk sambil menunggu jam yang sepertinya bergerak begitu lambat. Ada suara piring dan gelas di ruangan samping saya duduk. saya berasumsi, itu pasti dapur. Munking ada yang sedang cuci piring. Mendadak saya dikejutkan dengan seekor kucing keluar dari sana dengan membawa kue di moncongnya. Saya tersenyum, kucing saja bisa leluasa bergerak mencuri makanan di dapur, semoga penjagaan di kantor ini juga ketat🙂

Setelah mati gaya, mulai dari BBM-an, nulis daftar pertanyaan, dan lain lain akhirnya saya dipersilakan masuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Saya pesimis Pak Ansyad masih fresh saat menerima saya. Maklum ada belasan pertanyaan yang sudah saya siapkan. Ternyata saya salah, bapak itu masih fresh dan tersenyum lebar menyambut kedatangan saya.

Akhirnya penantian saya berakhir sudah…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s