Mengenang Pak Edward

Malam ini saat  iseng-iseng, saya membuka beberapa tulisan dan menemukan istilah  “Aljabar” dan “Geometri”. Tiba-tiba saya terkenang pada guru matematika masa SMP dulu tahun 1987-1989. Namanya Pak Edward.  Orangnya tinggi, gagah, bergingsul dan rambutnya kriwil. Beliaulah yang mengajar saya saat SMP bagaimana menyelesaikan soal aljabar dan geometri yang sangat membosankan (saya memang tidak berbakat matematika).

SMP saya adalah SMPN 2 Tijue, Pidie, sekitar 2.5 kilometer dari Sigli, ibukota kabupaten Pidie. Tahun 80-an itu, SMPN 2 Tijue itu berhalaman luas dan hijau dengan “hanya” 12 kelas, tidak termasuk ruang guru, ruang kepala sekolah dan laboratorium.

Terakhir saya berkunjung ke SMPN 2 Tijue, suasananya sudah berubah drastis. Sekarang bekas sekolah saya itu sudah begitu sempit dan penuh dengan bangunan-bangunan.

Kembali ke Pak Edward, beliau ini tinggal di Beureuneun, sekitar 10 kiloan dari sekolah saya itu. Istrinya –kabarnya ada dua– tapi benar atau tidaknya kabar itu saya juga belum tahu. Maklum saat itu saya kan masih ABG sekali dan tidak begitu penasaran dengan isu seperti itu.🙂

Selain mengajar matematika, Pak Edward juga punya usaha memotret kecil-kecilan di rumahnya. Dulu belum ada kamera digital dan laptop utk proses film seperti sekarang. Jadi Pak Ed–begitu kami memanggilnya– memproses fotonya di kamar gelap dengan mengunakan developer, fixer dan kamar gelap.

Terkadang guru matematika saya itu mendapat order memotret anak-anak di sekolahnya untuk pas foto ijasah (saya masih punya hasil jepretan Pak Ed yang sekarang jadi terpampang di ijazah SMP. rambut saya begitu acak-acakannya hehehehe)

Pak Ed mengajar kelas saya selama tiga tahun, sejak saya kelas 1 sampai kelas 3. Alasannya, dia sayang pada kami murid-muridnya dan ingin kami punya guru matematika yang sama supaya lebih mengerti pelajaran yang satu itu. bergantinya guru sering jadi alasan ketika nilai merosot.. hehehe

Setelah kelas tiga SMP, saya baru tahu kalo pak Edward ternyata anggota AM (Aceh Merdeka)–sekarang GAM–. Secara sembunyi-sembunyi dia memperlihatkan beberapa selebaran yang berbahasa aceh kepada kami, beberapa murid kesayangannya. Bahkan Pak Ed juga punya foto bendera GAM yang diselipkan di dompetnya.

kata Pak Ed, AM sedang mencari anak-anak Aceh untuk disekolahkan ke Libya. Dia bertanya apa saya bertarik? saya yang masih berumur 13 tahun itu kebingungan karena tidak tahu apa itu AM dan jelas saja tidak berminat belajar ke luar karena saya pasti kangen dengan ibu bapak saya.

Meskipun kami tahu bahwa Pak Ed itu orang AM, tetapi tidak mengubah rasa hormat dan sayang kami kepada bapak guru itu. Saya tetap mengagumi pak Ed sebagai guru yang bisa mengajarkan saya geometri dan aljabar (hingga saat ini setiap saya berdiri di bawah pohon cemara saya ingat Pak Ed, berikut cara mengukur ketinggian pohon itu)

Setamat SMP, saya tidak pernah bertemu Pak Ed, begitu juga saat tamat SMA dan kuliah di Jakarta untuk menjadi wartawan.

Tahun 2000 akhirnya saya diterima di Koran lokal Aceh serambi Indonesia. Hari pertama saya bekerja sebagai wartawan, saya tidak banyak beraktifitas kecuali diminta untuk membaca koran dan update soal Aceh yang saat itu kondisinya memanas dengan banyaknya penembakan.

Betapa kagetnya saya ketika membaca salah satu berita kalau  ada pria bernama Edward, tertembak di Beureunuen. Edward itu tersangka GAM yang mencoba melarikan diri dan dilumpuhkan oleh tentara Indonesia. Berita itu juga menjelaskan kalau Edward adalah guru dan punya usaha foto.

Tidak salah lagi, itu adalah Edward, guru matematika saya saat masih SMP. Mendadak saya mengigil karena kaget. Saya tidak menyangka mantan guru matematika saya akan berakhir seperti itu.

Dari sahabat saya Rahmi, saya mendapatkan cerita soal penangkapan Pak Ed dengan lebih detil. Kata Rahmi, Pak Ed memang “dijemput” oleh aparat. Pak Ed sempat melarikan diri lewat pintu belakang dan akhirnya ditembak (sepertinya tidak begitu mematikan karena aparat berhasil membawa Pak Ed yang terluka entah kemana) .

Hingga saat ini Pak Ed tidak pernah kembali ke rumah. Keluarga menganggap beliau sudah meninggal meskipun jenazah Pak Ed tidak pernah ditemukan meskipun istrinya mencari kemana-mana.😦

Dan malam ini saya mengenang sang pahlawan tanpa tanda jasa itu. Yang mengajarkan saya matematika dan tidak pernah marah saat soal yang saya kerjakan salah semua. saya mengenang senyum dan gigi ginsulnya.  Rest in peace pak, anywhere you are… God bless you always…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s